Setiap muslim senantiasa dianjurkan untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT dalam setiap aktivitas. Berikut adalah lafadz bacaan Mitos dan Fakta Bulan Safar: Bacaan Doa Perlindungan yang Shahih lengkap dengan tulisan Arab, Latin, arti terjemahan, serta sumber dalilnya.
Gambar Infografis Bacaan Mitos dan Fakta Bulan Safar: Bacaan Doa Perlindungan yang Shahih – BlogDoa.com
Bacaan Teks Doa
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ، وَالْجُنُونِ، وَالْجُذَامِ، وَمِنْ سَيِّئِ الأَسْقَامِ
Latin: Allahumma inni a’udzu bika minal barashi, wal jununi, wal judzami, wa min sayyi’il asqam.
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, kusta, dan dari segala penyakit yang buruk (menjijikkan/berbahaya).”
Sumber & Dalil Doa
HR. Abu Dawud no. 1554, An-Nasa’i no. 5493, dan dishahihkan oleh Al-Albani
Penjelasan & Makna Doa
Bulan Safar seringkali diidentikkan oleh sebagian masyarakat awam sebagai bulan kesialan, penuh bala, atau bulan yang mendatangkan malapetaka. Pandangan ini adalah mitos jahiliyah yang tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda bahwa tidak ada kesialan pada bulan Safar (HR. Bukhari dan Muslim). Sebagai umat Islam, sikap terbaik dalam menyambut bulan apa pun, termasuk Safar, adalah dengan memperbanyak zikir, bertawakal kepada Allah, serta memohon perlindungan-Nya dari segala bentuk keburukan dan penyakit. Doa perlindungan dari penyakit berat dan bala bencana sangat dianjurkan untuk dibaca secara istiqamah, tidak hanya khusus di bulan Safar, tetapi kapan saja untuk memohon penjagaan Allah SWT.
Keutamaan & Manfaat Mengamalkan Doa Ini
- Meluruskan akidah dari keyakinan sial atau ‘thiyarah’ yang bertentangan dengan tauhid.
- Memohon perlindungan langsung kepada Allah SWT dari berbagai penyakit berbahaya dan wabah.
- Meningkatkan ketawakalan dan rasa butuh seorang hamba kepada penjagaan Sang Pencipta dalam setiap waktu.
Semoga bacaan doa ini bermanfaat dan dapat kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari demi mendekatkan diri kepada Allah SWT. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Komentar